Pak Maman, Seorang Guru Honorer Yang Bertahan Sejak 1977

Written By Supiadi Yadi on 14 December 2015 | December 14, 2015

Raut muka Maman Supratman tidak terlihat lelah, meski sedari pagi mengikuti rangkaian acara peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia ke-70, Minggu 13 Desember. Senyuman ramahnya sesekali merekah dari sudut-sudut di bibirnya.

Kemeja batik putih khas PGRI yang dikenakannya terlihat lebih besar dari ukuran tubuhnya yang kurus. Kopiah hitamnya pun setia bertengger di atas kepalanya sedari pagi. Hari ini, ia adalah satu dari 17 guru yang mendapat piagam penghargaan dari PGRI.

Setelah selesai acara, Maman menyempatkan diri berbincang dengan beberapa awak media. Tangan kanannya memegang piagam tersebut, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah trofi yang juga diberikan dalam penghargaan itu.
Piagam tersebut bertuliskan "Piagam Penghargaan Atas Dedikasinya Yang Luar Biasa dalam Melaksanakan Tugas Profesional untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan". Patut rasanya piagam tersebut disematkan kepada pria yang kini sudah berumur 75 tahun itu.

Dedikasi Maman dalam dunia pendidikan tak bisa dipandang sebelah mata. Sudah sejak 1977 ia menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Lebih tepatnya guru honorer.

"Sudah hampir 40 tahun saya menjadi tenaga honorer. Dan sampai sekarang pun saya masih aktif mengajar," papar Maman yang ditemui di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (13/12/2015).

Menurut guru di SMPN 17 Pondok Gede, Bekasi, itu, yang terpenting adalah pengabdiannya kepada sekolah dan negara. Ia tak menghiraukan soal statusnya sebagai tenaga honorer. "Yang penting bisa terus ngajar," kata dia lirih.

Perihal upahnya selama mengabdi menjadi guru, Maman mengungkapkan, penghasilannya paling besar dalam satu bulan maksimal Rp1,5 juta.

Itu pun harus didapat setelah mengajar sejak pagi dan harus mengajar tiga kelas, bahkan lebih. Pertama kali mengajar bahkan ia hanya diupah Rp9 ribu per bulan.

"Dan itu saya ngajarnya borongan, kesenian, fisika, dan elektro. Kalau sekarang ngajarnya seni dan budaya," kata dia.

Terbesit harapan besar kepada pemerintah. Apalagi, pada masa senjanya seperti sekarang, ia ingin setidaknya mendapat perhatian dari pemerintah.

"Saya ingin di masa sekarang dapat tunjangan pensiun," ungkapnya.

Maman mengungkapkan, hingga saat ini, ia tidak menyerah dengan keadaan. Toh, di usia senjanya ia tidak memilih pensiun sebagai pengajar.

"Kalau saya masih kuat, saya ingin tetap mengajar," singkatnya.

Maman mengakui menikmati hari-harinya selama hampir 40 tahun menjadi guru. Keluh kesah tak pernah hadir barang sedetik dalam benaknya.
Semangat mengajarnya tak pernah padam. Masa depan anak didiknya jadi pemicu kakek dengan lima cucu itu untuk terus berjuang sebagai pahlawan tanpa tanda jada.

"Ya mungkin karena ada hubungan dengan anak murid itu lain, membantu sesama manusia. Anak-anak murid saya, sekarang sudah ada yang menjadi dokter, insinyur, direktur, kepala sekolah, ada yang jenderal. Ya begitulah," ia mengakhiri.
Sumber : http://news.metrotvnews.com

Ditulis Oleh : Supiadi Yadi ~Belajar Tanpa Batas

Supiadi Anda sedang membaca artikel berjudul Pak Maman, Seorang Guru Honorer Yang Bertahan Sejak 1977 yang ditulis oleh Supiadi Yadi , Dan Anda diperbolehkan mengcopy paste artikel ini dengan syarat wajib mencantumkan link kami

Blog, Updated at: December 14, 2015

1 komentar:


×