Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah
mengirim 1.000 guru ke luar negeri untuk pelatihan selama tiga pekan. Kini
mereka sudah pulang dengan membawa banyak pengalaman.
Salah satu peserta pelatihan, Ikhwansyah yang
merupakan Guru TIK asal SMA Negeri 1 Padang mengatakan, ia dan 20 rekannya
mendapat materi Vocational
Teacher Training On Coding Skill di
Amity University, Noida, India.
“Yang kami dapatkan banyak sekali, terutama di
bidang IT yang sangat pesat di India. Kami melihat kenapa mereka bisa maju,
adalah prinsip-prinsip TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) ini memang
sebuah kebutuhan yang sangat perlu ditanamkan semenjak usia dini kepada anak di
sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA,” ucapnya.
“Para siswa sudah diberikan materi dasar coding atau bahasa pemrograman dimana dengan
pemahaman coding nantinya siswa akan lebih mudah untuk
menjadi seorang ahli di bidang IT terutama programmer,” tambah Ikhwansyah di
sela acara Menyambut Pulangnya 1.000 Guru di Hotel Millenium Jakarta, Senin
(25/3/2019).
Dia menambahkan bahwa pada dasarnya mereka
membuat sebuah codingsehingga
nanti mereka bisa membuat aplikasi yang mereka butuhkan dan berharap Indonesia
bisa seperti India sebagai penghasil software yang berguna.
“Karena perusahaan yang kami kunjungi (di
India), mereka sudah bisa sebagai penghasil software dan itu digunakan di negara
lain seperti Amerika. Sementara di Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja. Dan yang kedua
dari segi bahasa, mereka sudah biasa belajar bahasa Inggris sejak kecil atau
Paud,” ucap Ikhwansyah.
Ia pun akan membagikan ilmu yang ia dapatkan di
sekolah. “Nantinya yang saya akan ajarkan di sekolah yaitu menerapkan apa yang
sudah saya dapatkan d India terkait IT ini. Minimal di sekolah tempat yang saya
ajarkan, nanti baru kita imbaskan ke teman-teman melalui Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) baik kota maupun provinsi,” tuturnya.
Ikhwan berharap agar nantinya anak didiknya bisa
disiapkan untuk mampu bersaing di dalam perkembangan teknologi. Sebab jika
sudah tertinggal,nantinya Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja.
Selain Ikhwansyah, ada juga Guru Ekonomi SMA
Negeri 2 Boyolali, Ismawanto yang mendapat pelatihan di The University Of
Queensland Australia. Menurutnya lingkungan dan kehidupan di sana tertata rapi.
Kemudian tertib serta memiliki kedisiplinan yang luar biasa.
Bahkan tidak ada yang menggunakan gadget saat
belajar, dan juga sangat menghormati orang lain baik di luar lingkungan sekolah
maupun di dalam sekolah. Dari sisi pendidikan juga sudah tertata
kebijakan-kebijakannya sehingga guru, kepala sekolah, TU, dan siswa mengusung
pendidikan yang sangat tinggi.
“Setiap sekolah diberikan kebebasan untuk
kebijakan masing-masing, tetapi komitmen untuk sukses itu sangat tinggi dalam
sistem pendidikan. Sisi pembelajaran sangat aktif dan antusias baik guru dengan
siswa. Ketika siswa ada masalah langsung ditangani di sana karena ada yang
namanya support teacher.
Jadi ada dua guru, satu sebagai pendamping untuk mengatasi siswa yang
barangkali ada kesulitan,” ujar Ismawanto.
Dia menambahkan bahwa sarana dan prasarana
Australia sangat lengkap. Semuanya sudah menggunakan peralatan canggih sehingga
sangat mendukung sekali di era revolusi industri 4.0. Sedangkan di luar belajar
mengajar juga ada pengembangan bakat siswa sesuai minatnya masing-masing.
Misalnya ada siswa yang suka seni, ternak, pertanian, dan lain-lain, maka akan
diarahkan oleh guru pembimbingnya.
Berdasarkan hal ini, Ismawanto berharap agar mindset guru perlu ditingkatkan lagi bahkan
diubah agar lebih baik untuk ke depannya. Ia pun akan berusaha
mengimplementasikan ilmu yang sudah dia dapat.
“Hanya komitmennya saja yang harus dikembangkan
dan dimantapkan lagi supaya semua guru itu berkomitmen terhadap proses
pembelajaran. Apalagi kita semua kan sudah dapat sertifikasi, itu kan bisa
dijadikan motivasi peningkatan proses pembelajaran di kelas, supaya ke depannya
anak-anak dapat lebih maju,” katanya.
Sementara Guru Kimia SMA Negeri 6 Padang, Vivi
Wirni mendapat pelatihan di China dengan tema kegiatan STEM ICT, STEM (science,
technology, engineering and mathematics) Information Communication Technology
(ICT) yang berlokasi di Jiangsu Normal University.
Di China, Vivi menerima materi tentang bagaimana
mengajar matematika, fisika, dan biologi yang tidak monoton. “Di sana seperti
lomba saja, presentasi di hadapan profesor dengan menampilkan video. Ketika
saya sedang mengajar di dalam kelas, di situ kita sembari dinilai. Dan
alhamdulillah saya dapat apresiasi The
Best-nya,” kata Vivi.
Vivi berharap agar pola pengajaran guru diubah
alias tidak hanya menerangkan saja, tetapi sambil bertanya kepada siswa. Bahkan
memberikan soal dengan hitungan waktu cepat agar siswa tersebut antusias jika
mengerjakan soal dengan waktu. “Dan jangan pernah menyalahkan siswa yang tidak
pernah baca dan lain-lain, tapi lihat dulu gurunya apakah dia sudah membaca?
Jadi ubahlah dulumindset-nya,” ucapnya.
“Seperti saya mengajarkan siswa dengan memutar
video, buktinya mereka enjoysambil
bernyanyi sebelum belajar. Penggabungan seperti itu ternyata sudah termasuk
STEM ICT. Pelajarannya kimia tapi ada seninya jadi mereka gak bosan,”
tambahnya.
Selain itu ketika siswa lagi mengerjakan soal,
guru tidak boleh pelit memberireward. Reward itu bisa memberi siswa pulpen.
Selain itu tidak boleh membeda-bedakan siswa,
tetapi semuanya harus diperlakukan sama. “Seperti bikin kelompok campuran
antara siswa yang pintar dengan siswa yang kurang. Jadi belajar untuk sportif
dan tidak untuk egois lagi. Hal seperti itu sebagai contoh metode pembelajaran
dengan teman sebaya,” pungkasnya.
Lebih lanjut, pengiriman 1.000 guru ke luar
negeri bertunjuan menambah pengalaman tenaga didik dalam sistem pembelajaran di
era revolusi industri 4.0. Kemendikbud menyebar 1.000 guru untuk pelatihan di
12 negara, yakni ke China, India, Korea Selatan, Finlandia, Australia, Jerman,
Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hong Kong, dan Belanda.
Sumber : https://gtk.kemdikbud.go.id
Post a Comment for "Cerita Inspiratif Guru yang Mengikuti Pelatihan di Luar Negeri"