Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada
pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil
Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi)
serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala
sekolah dan guru). Kepala sekolah dan guru dari Sekolah Penggerak melakukan
pengimbasan kepada satuan pendidikan lain.
Program Sekolah Penggerak adalah program untuk
meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari 5 jenis intervensi untuk
mengakselerasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun
ajaran.
“Sekolah Penggerak adalah katalis.
Banyak sekali sekolah-sekolah kita belum melakukan transformasi paradigma.
Lebih banyak sekolah kita yang mengikuti administrasi pendidikan atau berbagai
macam proses pendidikan, tapi tidak berfokus pada output pembelajaran.
Jadi ini yang kita harapkan dengan Sekolah Penggerak, melakukan transformasi,”
kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat peluncuran
Merdeka Belajar Episode 7: Program Sekolah Penggerak, Senin (1/2/2021).
Menurut Nadiem, transformasi terhadap output pembelajaran yang lebih esensial
dan fundamental juga terjadi pada sekolah-sekolah di banyak negara di dunia.
“Dan diawali, terpenting dengan SDM yang unggul.
Ini tidak ada substitusinya. Semua transformasi pendidikan, ujung-ujungnya
adalah kualitas guru dan kualitas kepemimpinan sekolah, kepala sekolah dan
guru-gurunya,” jelas Mas Menteri.
Pada paparannya, Mendikbud mengungkap gambaran
akhir Sekolah Penggerak secara umum:
Hasil Belajar:
- Di atas level yang diharapkan
Lingkungan Belajar:
- Aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan
Pembelajaran:
- Berpusat pada murid
Refleksi diri dan pengimbasan:
- Perencanaan program dan anggaran berbasis refleksi diri
- Refleksi guru dan perbaikan pembelajaran terjadi
- Sekolah melakukan pengimbasan
“Dan di akhir dari program ini, kita ingin hasil
belajar yang di atas rata-rata, di atas level yang diharapkan. Numerasi,
literasi, dan berbagai macam hal yang kita lihat harus meningkat di atas
rata-rata,” tutur Mendikbud.
“Kita ingin lingkungan belajar yang
aman, nyaman, nyaman bagi siswa-siswi kita, inklusif, dan menyenangkan.
Menyenangkan mungkin yang paling penting. Karena kalau anak-anak kita tidak
merasa senang dalam sekolah, pembelajaran akan terkorbankan. Kita tidak bisa
menemukan optimalisasi pembelajaran, jika anak tidak merasa senang di dalam
kelas, merasa mereka tidak berpartisipasi,” sambung Nadiem.
Mendikbud menjelaskan filsafat dasar dari Sekolah
Penggerak yakni pembelajaran berpusat pada murid. “Bukan berpusat pada
regulasi, bukan berpusat pada hal-hal lain. Berpusat pada kebutuhan murid.
Berpusat pada kemampuan murid,” ujarnya.
Mendikbud menerangkan lebih lanjut tentang pentingnya
melakukan refleksi.
“Dan tentunya refleksi diri dan pengimbasan.
Perencanaan dan iterasi yang dilakukan oleh guru-guru dan kepala sekolahnya
adalah basis dari transformasi perubahan pembelajaran. Kita ingin melihat
guru-guru melakukan refleksi,” terang Mendikbud Nadiem Makarim.
“Guru-guru ngobrol dengan
guru-guru dari kelas lain untuk bekerja sama, berkolaborasi sebagai tim. Karena
pendidikan adalah team based sport,
dimana guru-guru harus bekerja sama dengan kepala sekolah. Sebagai coach-nya ini kepala sekolah untuk bisa
menemukan inovasi-inovasi dan selalu mengetes apakah ini berhasil kita lakukan
dengan murid kita,” tambah Nadiem.
Mengetes dapat dilakukan dengan melakukan asesmen
di dalam kelas, melakukan berbagai macam survei, serta melakukan proses
kolaboratif. “Jadi refleksi diri menjadi tema yang sangat kuat pada Sekolah
Penggerak,” ucap Mendikbud.
Bagi kepala sekolah di daerah penyelenggara Program
Sekolah Penggerak 2021, diharapkan untuk segera mendaftar sebelum 6 Maret 2021
di: https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/pendaftaran-sekolah-penggerak
Info lebih lanjut tentang Program Sekolah Penggerak
dapat disimak di laman: sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/programsekolahpenggerak
Post a Comment for "Sekolah Penggerak adalah Katalis"